28
Feb
garudaglobal.net — Investor global kini tengah mengkaji ulang profil risiko kedaulatan Indonesia menyusul peringatan keras dari S&P Global Ratings mengenai potensi penurunan peringkat kredit dalam waktu dekat. Lembaga pemeringkat tersebut mengidentifikasi meningkatnya tekanan fiskal, khususnya eskalasi biaya layanan utang, sebagai ancaman utama bagi stabilitas ekonomi Indonesia. Analis kedaulatan S&P, Rain Yin, mencatat bahwa pembayaran bunga utang sangat mungkin melampaui ambang batas kritis 15% dari pendapatan pemerintah—sebuah metrik yang tetap tinggi secara konsisten pascapandemi. "Jika tetap di atas ambang batas secara berkelanjutan, hal itu dapat memicu pandangan yang lebih negatif terhadap peringkat kredit Indonesia," ujar Yin dalam webinar kawasan Asia Pasifik,…
