garudaglobal.net — Ekspansi hubungan ekonomi Indonesia dan Korea Selatan memasuki fase baru melalui peningkatan status menjadi Special Comprehensive Strategic Partnership di Blue House, Seoul, Rabu, 1 April 2026.
Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Lee Jae Myung menyepakati 16 Nota Kesepahaman (MoU) yang mencakup sektor krusial seperti mineral kritis, kecerdasan buatan (AI), hingga energi nuklir.
Ketahanan Energi dan Hilirisasi Teknologi Tinggi
Korea Selatan secara strategis menempatkan Indonesia sebagai mitra kunci stabilitas energi global di tengah eskalasi konflik Timur Tengah yang mengancam rantai pasok LNG dan batu bara.
Realisasi pasokan 820.000 ton LNG tahun ini menjadi bukti nyata peran Indonesia dalam menjamin operasional pembangkit gas Korea Selatan selama masa krisis energi dunia.
Dalam sektor pertahanan, akselerasi proyek jet tempur KF-21 Boramae dipastikan tuntas pada Juni 2026, yang akan diikuti oleh ekspor 16 unit pesawat ke Jakarta.
“Korea memiliki kemampuan industri serta sains dan teknologi yang luar biasa, sementara Indonesia memiliki sumber daya melimpah dan pasar yang besar,” tegas Prabowo Subianto pada 1 April 2026.
Integrasi Keuangan dan Inovasi Pembayaran Lintas Batas
Sektor finansial mencatat terobosan signifikan melalui penandatanganan kerangka transaksi mata uang lokal antara Bank Indonesia dan Bank of Korea guna memitigasi risiko volatilitas kurs global.
Inovasi ini memungkinkan sistem pembayaran QR code lintas batas (cross-border) tanpa konversi mata uang ketiga, yang diprediksi akan meningkatkan efisiensi perdagangan bilateral secara masif.
Presiden Lee Jae Myung memberikan apresiasi tinggi atas peran stabilisasi Indonesia dan menganugerahkan Grand Order of Mugunghwa sebagai pengakuan atas kontribusi ekonomi Presiden Prabowo.
“Di tengah ketidakpastian global dan berbagai tantangan, keberadaan kedua negara kita merupakan berkah bagi satu sama lain,” ujar Lee Jae Myung dalam State Luncheon pada 1 April 2026. ***
