Banjir Jakarta pagi ini membuat tol padat, akses keluar ditutup, dan transportasi publik terganggu. BMKG mencatat potensi hujan ekstrem masih berlanjut. kemacetan pagi ini bukan kejutan. Semua kembali pada satu hal: banjir Jakarta masih menjadi persoalan yang efeknya langsung terasa ke mobilitas harian
Pagi Hari, Jakarta Tidak Bergerak
Pada titik ini, banyak warga baru menyadari satu hal: Jakarta melambat sejak pagi. Tol dalam kota padat, arus keluar tersendat, dan perjalanan yang biasanya lancar berubah menjadi antrean panjang.
Secara faktual, kepadatan paling terasa di ruas tol yang menuju jalan arteri. Masalahnya bukan di tol, melainkan di bawahnya. Jalan arteri tergenang, kendaraan tak bisa keluar, dan antrean pun mengular.
Rawa Bokor Jadi Titik Kunci
Yang jadi sorotan, kawasan Rawa Bokor mencatat genangan paling parah. Ketinggian air mencapai 60 cm. Polisi menutup akses keluar dari Tol Cengkareng dan mengalihkan kendaraan ke arah bandara.
Menurut Kepala Satuan PJR Ditlantas Polda Metro Jaya Kompol Dhanar Dhono Vernandhie, “Kalau padat itu Podomoro, Sunter, yang keluar-keluar itu karena arterinya banjir, jadinya dia padat di tol.”
Artinya begini, tol masih bisa dilalui. Namun pada praktiknya, kendaraan kehilangan jalur keluar yang aman.

Transportasi Publik Ikut Tersendat
Tak berhenti di situ, dampak banjir Jakarta juga merembet ke transportasi publik. Transjakarta menghentikan sementara sejumlah rute, termasuk Koridor 10 dan berbagai layanan Mikrotrans.
Efek langsungnya terasa bagi warga. Perjalanan terganggu bukan karena satu titik banjir, melainkan karena banyak jalur yang terputus bersamaan.
BMKG dan Pola yang Berulang
Di balik itu semua, BMKG sebelumnya telah mencatat dinamika atmosfer yang memicu hujan berjam-jam. Peringatan hujan sedang hingga sangat lebat dan angin kencang berlaku hingga 14 Januari 2026.
Yang kerap luput diperhatikan, hujan panjang seperti ini bukan hanya soal curah air. Imbasnya merambat ke lalu lintas, transportasi, hingga ritme kota.
