garudaglobal.net – Pemerintah Iran secara resmi menanggapi eskalasi protes yang meluas dengan menuding keterlibatan Amerika Serikat dan Israel. Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan bahwa demonstrasi damai merupakan hak konstitusional rakyat, namun kekerasan yang menyertai kerusuhan dinilai sebagai hasil intervensi asing.
Pemerintah Bedakan Aspirasi dan Kekerasan
Dalam pernyataan publiknya, Pezeshkian menyampaikan bahwa negara berkewajiban mendengar keluhan masyarakat. Namun, menurutnya, tindakan pembakaran masjid, pembakaran Al-Qur’an, serta serangan bersenjata tidak dapat dikategorikan sebagai bentuk protes.
Yang perlu digarisbawahi, pemerintah Iran memandang aksi tersebut sebagai operasi terorganisir. Pezeshkian menyebut para pelaku sebagai elemen terlatih yang telah dipersiapkan oleh Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel untuk menciptakan kekacauan.
Latar Belakang Tekanan Ekonomi
Dalam konteks tersebut, protes yang muncul tidak dapat dilepaskan dari tekanan ekonomi berkepanjangan. Sanksi internasional yang kembali diperketat telah memukul nilai tukar Rial dan memicu lonjakan harga kebutuhan pokok.

Bersamaan dengan itu, pemerintah Iran mengklaim telah membuka ruang dialog dengan pedagang pasar, pengusaha, serta serikat pekerja. Kabinet berkomitmen untuk memastikan distribusi subsidi dilakukan secara adil tanpa diskriminasi.
Eskalasi Keamanan dan Korban Jiwa
Di lapangan, situasi keamanan dilaporkan memburuk. Farajollah Shooshtari, aktivis sosial terkemuka dan putra mendiang jenderal IRGC, tewas akibat serangan bersenjata di Mashhad. Pemerintah menuding kelompok perusuh sebagai pelaku utama.
Namun pada saat yang sama, laporan dari lembaga HAM menyebutkan sedikitnya 116 orang tewas akibat tindakan represif aparat. Angka tersebut, menurut pejabat AS dan Israel, diyakini lebih rendah dari jumlah sebenarnya.
Pemadaman Internet dan Respons Publik
Pemutusan akses internet dan jaringan seluler diterapkan untuk membatasi penyebaran informasi. Kendati demikian, rekaman video yang beredar menunjukkan demonstrasi masih berlangsung di Teheran dan kota-kota lain.
Di luar Iran, Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan tengah mempertimbangkan berbagai opsi strategis untuk meningkatkan tekanan terhadap Teheran. Langkah tersebut mencakup pengerahan aset militer, serangan siber, serta operasi informasi.
Sementara itu, Israel dikabarkan hanya akan terlibat langsung jika Iran lebih dahulu melancarkan serangan atau menunjukkan indikasi ancaman nyata.
