Krisis Ekonomi

Sentralisasi Ekonomi Danantara: Potensi Risiko Off-Budget Spending

Sentralisasi Ekonomi Danantara: Potensi Risiko Off-Budget Spending

garudaglobal.net — Konsolidasi aset negara skala masif melalui pembentukan badan super-holding Danantara serta restrukturisasi pengelolaan BUMN menjadi klaster utama yang dikritik secara tajam oleh pengamat pasar modal internasional pada pertengahan Mei 2026. Langkah pemusatan kendali ekonomi ini dinilai berisiko mereduksi transparansi keuangan publik. Laporan analisis pasar global menggarisbawahi bahwa konsentrasi kekuasaan politik dan ekonomi yang berpusat pada lembaga baru ini, dipadukan dengan kekhawatiran pelemahan independensi Bank Indonesia, berpotensi memicu timbulnya aktivitas belanja di luar anggaran resmi negara (off-budget spending) yang sulit diawasi secara ketat. Para analis makroekonomi menilai bahwa pergeseran regulasi ini memperlemah fungsi pengawasan legislatif terhadap pengelolaan aset strategis…
Read More
Strategi Fiskal Pemerintah Amankan Ketahanan APBN dan Pasokan Energi

Strategi Fiskal Pemerintah Amankan Ketahanan APBN dan Pasokan Energi

garudaglobal.net — Pemerintah Indonesia menempuh kebijakan fiskal agresif dengan memfungsikan APBN sebagai instrumen shock absorber utama untuk mengantisipasi lonjakan harga minyak mentah dunia yang menembus angka US$100 per barel. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa postur anggaran saat ini masih berada dalam batas aman untuk menopang beban subsidi energi tanpa mengganggu stabilitas makroekonomi. Purbaya menyampaikan bahwa rasio defisit terhadap PDB per Februari 2026 yang tercatat sebesar 0,53 persen masih memberikan ruang fiskal yang sangat memadai bagi pemerintah. “APBN kita masih tahan. Saya tidak akan ubah APBN atau subsidi BBM sampai titik harga minyak benar-benar sangat tinggi,” tegas Purbaya Yudhi…
Read More
Pasar Energi Global Berguncang, Brent Bertahan di Level US$100

Pasar Energi Global Berguncang, Brent Bertahan di Level US$100

garudaglobal.net — Harga minyak dunia Brent Crude bertahan di level US$102,83 per barel per 26 Maret 2026, mencerminkan volatilitas ekstrem akibat eskalasi militer di koridor strategis Timur Tengah.Kenaikan masif hingga 56,30 persen dalam satu bulan terakhir ini memaksa korporasi global dan lembaga keuangan papan atas untuk melakukan kalkulasi ulang terhadap risiko sistemik. Ancaman blokade Selat Hormuz menjadi katalis utama gangguan suplai energi. Ketegangan yang melibatkan kekuatan militer Amerika Serikat, Israel, dan Iran telah mengubah lanskap investasi komoditas secara drastis. Pasar kini mengantisipasi durasi gangguan suplai yang bisa berlangsung lebih lama dari perkiraan semula. Peringatan Keras BlackRock dan Proyeksi Bearish JP…
Read More