30
Mar
garudaglobal.net — Pemerintah Indonesia merilis paket kebijakan responsif guna memitigasi risiko transmisi ekonomi akibat eskalasi militer di Timur Tengah yang telah mengerek harga minyak mentah Brent melampaui ambang batas USD 100 per barel. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa fokus utama kabinet saat ini adalah mengamankan rantai pasokan energi global, terutama di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi 20 persen minyak dunia. Gangguan pada jalur logistik ini diprediksi akan berdampak langsung pada biaya impor energi Indonesia, mengingat 20 persen kebutuhan minyak nasional terikat kontrak dengan Arab Saudi. "Kita belum tahu perang ini lama atau pendek. Yang mengkhawatirkan…
