Ragam

Cuaca Panas Tak Serentak di Indonesia, BMKG: Jawa Puncaknya Oktober

Ilustrasi Cuaca Panas
Ilustrasi Cuaca Panas

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut seluruh wilayah Indonesia berpotensi mengalami peningkatan frekuensi hari panas, tetapi waktu terjadinya berbeda di setiap daerah. Penjelasan itu disampaikan Koordinator Bidang Analisis Variabilitas Iklim BMKG, Supari, dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Kamis (15/10/2026), saat Jawa tengah merasakan cuaca panas ekstrem pada Oktober.

Perbedaan waktu itu berkaitan dengan pergerakan Matahari. Akibatnya, periode suhu maksimum tidak berlangsung serentak di seluruh Indonesia.

Cuaca Panas di Jawa Bukan Berarti Wilayah Lain Aman

Supari menjelaskan bahwa Jawa mengalami suhu panas ekstrem pada Oktober. Namun, wilayah lain tetap berpotensi merasakan kondisi serupa, hanya pada bulan yang berbeda.

Penegasan ini penting agar warga di luar Jawa tidak menganggap dirinya terbebas dari cuaca panas. Puncak suhu di daerah mereka sekadar datang pada waktu lain.

"Secara umum, semua wilayah Indonesia berpotensi mengalami peningkatan frekuensi hari panas, tetapi periode terjadinya tidak sama. Jadi, kondisi panas yang dirasakan masyarakat Jawa pada Oktober bukan berarti wilayah lain tidak mengalaminya pada waktu berbeda," kata Supari.

Posisi Semu Matahari Menentukan Waktu Suhu Puncak

Menurut Supari, posisi semu Matahari terus bergeser sepanjang tahun. Pergeseran itu membuat waktu penerimaan panas maksimum berbeda antardaerah.

Pada Desember, posisi semu Matahari mencapai titik paling selatan, lalu bergerak ke utara dan melintasi ekuator sekitar Maret. Memasuki April hingga Mei, sejumlah wilayah di utara ekuator umumnya berpotensi mengalami suhu maksimum.

Dengan pola itu, ada wilayah yang lebih dahulu mencapai puncak suhu, sementara daerah lain menyusul pada periode berbeda.

"Perubahan posisi Matahari menyebabkan waktu suhu maksimum yang dialami setiap wilayah tidak selalu berlangsung bersamaan di Indonesia," ucapnya.

Selatan Cenderung Kering, Utara Ekuator Makin Basah

Selain suhu panas, BMKG memproyeksikan perbedaan kecenderungan curah hujan antara wilayah selatan dan utara ekuator. Wilayah selatan diperkirakan cenderung semakin kering, sedangkan wilayah utara ekuator berpotensi mengalami peningkatan curah hujan dalam jangka panjang.

Bagi wilayah selatan, kondisi ini berarti perlu mewaspadai berkurangnya curah hujan dan meningkatnya potensi kekeringan. Di utara ekuator, curah hujan yang meningkat dapat memperbesar risiko bencana hidrometeorologi setempat.

"Proyeksi iklim menunjukkan wilayah selatan Indonesia cenderung semakin kering, sementara wilayah utara ekuator cenderung semakin basah. Karena itu, potensi yang perlu diantisipasi berbeda, mulai dari kekeringan di selatan hingga bencana hidrometeorologi di utara Indonesia," ujar Supari.

BMKG Minta Warga Kenali Karakter Iklim Daerahnya

BMKG mengingatkan masyarakat memahami karakter iklim daerah masing-masing agar dapat menyesuaikan langkah antisipasi terhadap cuaca dan perubahan musim. Pemantauan informasi iklim secara berkala juga membantu pemerintah daerah dan masyarakat menyiapkan mitigasi sesuai risiko wilayahnya.