Inflasi Amerika Serikat kembali meningkat menjadi 3,7% secara tahunan pada September 2026, ketika lonjakan harga energi memperberat biaya hidup masyarakat menjelang pemilihan paruh waktu pada 3 November. Kenaikan ini menjadi tantangan bagi Presiden Donald Trump dan Partai Republik, terutama karena tekanan harga berlangsung bersamaan dengan pelemahan pendapatan riil pekerja.
Laporan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dirilis Departemen Tenaga Kerja AS pada Rabu, 14 Oktober 2026, menunjukkan inflasi bulanan mencapai 0,6%, naik dari 0,4% pada Agustus. Data tersebut menandai percepatan inflasi tahunan dari 3,4% menjadi 3,7%, sekaligus memperlihatkan bahwa tekanan harga belum mereda.
Lonjakan harga bensin menjadi pendorong utama. Biro Statistik Tenaga Kerja AS mencatat harga bensin meningkat 9,1% dalam sebulan dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan IHK bulanan, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran yang mengganggu pasar energi.
Kenaikan energi tidak hanya memengaruhi pengeluaran pengendara. Bahan bakar merupakan komponen biaya transportasi dan distribusi, sehingga lonjakan harganya berpotensi menambah beban usaha serta menekan rumah tangga melalui berbagai pengeluaran sehari-hari.
Inflasi Amerika Menggerus Daya Beli Rumah Tangga
Tekanan biaya hidup terlihat dari perkembangan pendapatan pekerja. Berdasarkan data yang dikutip Reuters, rata-rata pendapatan per jam seluruh karyawan turun 0,7% secara tahunan pada September, setelah melemah 0,3% pada Agustus. Ketika harga meningkat sementara pendapatan tidak mampu mengimbanginya, kemampuan masyarakat membeli barang dan jasa ikut tertekan.
Tekanan tersebut tidak terbatas pada bahan bakar. Inflasi inti, yang mengecualikan makanan dan energi, meningkat 0,3% secara bulanan dan 2,6% secara tahunan pada September, dibandingkan masing-masing 0,3% dan 2,4% pada Agustus. Biaya tempat tinggal, layanan kesehatan, tiket pesawat, pakaian, serta sejumlah barang teknologi turut mengalami kenaikan.
Di sisi lain, harga bahan makanan yang dikonsumsi di rumah turun 0,1% selama September. Namun, penurunan tersebut belum cukup untuk mengimbangi tekanan dari energi dan berbagai layanan lain yang masih mengalami kenaikan harga.
Perbedaan ini penting karena inflasi tidak dirasakan secara seragam oleh setiap keluarga. Rumah tangga yang mengalokasikan porsi besar pengeluarannya untuk transportasi dan kebutuhan pokok dapat menghadapi tekanan berbeda dibandingkan kelompok yang memiliki ruang lebih besar dalam anggaran bulanan.
Tekanan Ekonomi Menjadi Tantangan Politik Trump
Masalah biaya hidup berpotensi menjadi beban politik bagi Trump menjelang pemilihan paruh waktu. Jajak pendapat Reuters/Ipsos yang dikutip dalam laporan Reuters menunjukkan sekitar 78% warga Amerika menyalahkan kebijakan Trump, termasuk tarif dan konflik di Timur Tengah, atas kenaikan harga. Angka tersebut mencerminkan persepsi publik, bukan bukti bahwa seluruh inflasi disebabkan oleh satu kebijakan tertentu.
Ekonom Kyle Moore dari Century Foundation menilai kebijakan pemerintah yang tidak menentu ikut memperburuk tekanan inflasi. Ia juga menyoroti gangguan rantai pasokan akibat perang di Iran serta investasi besar pada kecerdasan buatan (AI) dan pusat data sebagai faktor yang perlu diperhatikan.
Bagi Partai Republik, persoalannya bukan sekadar mempertahankan angka pertumbuhan ekonomi, melainkan meyakinkan pemilih bahwa kondisi ekonomi benar-benar membaik dalam kehidupan sehari-hari. Kenaikan harga yang berulang dapat memperlebar jarak antara gambaran ekonomi secara nasional dan pengalaman masyarakat ketika membayar kebutuhan rutin.
Administrasi Jaminan Sosial AS mengumumkan penyesuaian biaya hidup sebesar 3,6% untuk 2027 yang akan menjangkau hampir 72 juta penerima manfaat. Tunjangan pensiun rata-rata diperkirakan bertambah US$ 75 per bulan, tetapi penyesuaian tersebut tidak otomatis menjamin seluruh penerima terbebas dari tekanan kenaikan harga.
Perkembangan inflasi juga menempatkan Federal Reserve atau bank sentral AS dalam posisi sulit. Pasar meningkatkan perkiraan peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan 27–28 Oktober menjadi 37%, dari 22% sebelum data inflasi dirilis, meskipun mayoritas ekonom masih memperkirakan suku bunga ditahan pada Oktober.
Dengan pemilihan paruh waktu tinggal beberapa pekan, perkembangan harga energi, pendapatan pekerja, dan keputusan suku bunga akan menjadi bagian penting dari penilaian terhadap kondisi ekonomi AS. Data inflasi September menunjukkan tekanan biaya hidup masih menjadi persoalan yang harus dihadapi pemerintahan Trump menjelang pemungutan suara 3 November 2026.