Ekonomi Bisnis

IHSG Anjlok Imbas Pengumuman MSCI, Wamenko Minta Investor Berhitung Sendiri

Bursa Efek Indonesia
Bursa Efek Indonesia

Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo meminta investor domestik menghitung investasinya secara mandiri agar tidak mudah panik saat IHSG anjlok. Imbauan itu disampaikan di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (16/10/2026), setelah pengumuman lembaga penyedia indeks global MSCI memicu aksi jual asing di pasar modal Indonesia.

IHSG Anjlok Setelah MSCI Umumkan Opsi Pemangkasan Status

Pengumuman MSCI memuat opsi penurunan status pasar modal Indonesia dari Emerging Market (pasar berkembang) menjadi Standalone Market (pasar mandiri). Aksi jual asing mengikutinya, dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan hari ini.

Menurut Dradjad, tekanan terbesar justru datang dari investor dalam negeri sendiri.

"Kalau kita sudah bisa melakukan hitungan sendiri, Insyaallah kita tidak akan gampang panik ketika ada pengumuman-pengumuman seperti ini. Jadi apa yang terjadi sekarang ini adalah karena investor domestik terlalu gampang panik karena mungkin belum pede untuk berhitung sendiri," ujarnya kepada wartawan.

Temuan dari Jerman

Untuk menguatkan argumennya, Dradjad merujuk sebuah analisis di Jerman. Pada 2025, saham-saham dalam indeks Deutscher Aktien Index (DAX) menguat, sedangkan saham-saham Jerman di MSCI malah melemah. Ia membaca ketimpangan itu sebagai tanda bahwa pandangan MSCI tidak selalu bisa dibenarkan.

"Ketika DAX ya, bursa Jerman itu naik tinggi, MSCI world, yang betul-betul dianggap dunianya MSCI, saham-saham yang direkomendasikan MSCI, malah negatif. Artinya apa? Artinya tidak semua yang dilakukan oleh MSCI itu menguntungkan bagi investor," jelasnya.

Imbal Hasil dan Komposisi Indeks

Dradjad juga menyebut imbal hasil dana kelolaan MSCI masih lebih rendah dibandingkan lembaga penyedia investasi lain. Dari sisi komposisi, sekitar 70 persen saham dalam indeks MSCI berasal dari Amerika Serikat, dan 30 persen sisanya saham-saham teknologi.

Emiten Konsumsi Berpotensi Menguat

Di tengah IHSG anjlok, Dradjad melihat peluang pada sejumlah emiten consumer (barang konsumsi). Ia menyebut pertumbuhan emiten di sektor tersebut menyentuh 5,9 persen, angka yang menurutnya mencerminkan daya beli masyarakat yang masih terjaga.

Kepada para investor, pelaku pasar modal, dan broker, Dradjad menitipkan satu pesan.

"Pesan saya sekarang adalah bahwa tolong teman-teman para investor maupun para pelaku pasar modal, para broker di Indonesia. Cobalah, kalian bisa lebih independen. Perkuat analisis kalian, perkuat model-model kalian. Saya tahu banyak jago-jago matematika kok di Indonesia," pungkasnya.