Unjuk rasa yang bermula dari pelajar di Prancis sekitar sebulan lalu kini meluas ke Italia, Albania, Yunani, Spanyol, dan Belgia. Tuntutan mereka berkisar pada perbaikan sistem pendidikan dan biaya hidup yang makin mahal. Di sejumlah kota, aksi pada Sabtu, 17 Oktober 2026, berujung bentrokan dengan polisi.
Prancis: dari blokade sekolah ke pembakaran
Awalnya hanya ratusan siswa yang memblokir akses masuk sekolah di beberapa daerah. Aksi itu merembet ke kota-kota besar dan berlangsung lebih dari tiga pekan. Wali Kota Saint-Denis, Bally Bagayoko, sempat turun tangan melindungi pelajar dari tindak keras petugas.
Serikat pekerja kemudian ikut masuk dengan isu biaya hidup. Lewat seruan di media sosial pada Jumat, 16 Oktober, mahasiswa, serikat pekerja, dan tokoh gerakan rompi kuning (gilets jaunes) mengajak bergabung dalam demonstrasi Sabtu.
Salah satu aktivis rompi kuning, Jeromes Rodrigues, menyebut protes itu untuk memberi suara kepada warga yang ingin hidup layak tanpa memilih antara makan dan berkendara. "Kemarahan tak mengenal partai politik, kulkas kosong tak mengenal partai politik," katanya, seperti dikutip BBC.
Malam harinya situasi berubah. Ketika protes mulai mereda, sekelompok orang menjarah toko dan membakar barang, lalu polisi menembakkan gas air mata. Api juga dinyalakan di jalan, kendaraan dibakar, dan kekerasan menjalar ke Place de la République.
Di Paris dan Limoges, sejumlah bangunan terbakar, termasuk menara balai kota bersejarah yang runtuh. Kantor pariwisata bersejarah di Lyon ikut dilalap api. CEO Carrefour melaporkan sekitar 1.500 toko di seluruh Prancis terdampak kekerasan, menurut kutipan CNN.
Italia: harga BBM dan bentrokan di Bologna
Warga di Roma, Milan, dan wilayah lain turun ke jalan pada Sabtu untuk memprotes kenaikan biaya hidup dan lonjakan harga bahan bakar minyak (BBM). Di Roma, serikat pekerja CGIL menggelar aksi menentang kebijakan pemerintahan Perdana Menteri Giorgia Meloni.
Kericuhan pecah di Bologna. Sekelompok orang bertutup wajah melempar batu dan botol, dan petugas membalas dengan tongkat serta gas air mata. Di Turin, massa meneriakkan slogan yang menyasar National Future, partai sayap kanan jauh pimpinan mantan jenderal Roberto Vannacci.
Demonstrasi di Piazza del Duomo, Milan, juga berakhir bentrok. Sebagian kecil demonstran bertutup wajah melemparkan alat pemadam kebakaran.
Tirana, Albania
Demo di ibu kota Albania sudah berjalan berhari-hari. Mahasiswa menuntut perbaikan sistem pendidikan, biaya yang terjangkau, dan lapangan kerja, sebelum kelompok lain menyusul dengan protes soal korupsi dan ketidaksetaraan.
Aksi ini bertepatan dengan Revolusi Flamingo, gerakan yang berbulan-bulan menolak resor mewah terkait menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump, Jared Kushner. Salah satu unjuk rasa di Tirana berubah ricuh ketika sekelompok orang menyerang gedung pemerintahan, bank, dan infrastruktur sipil. Polisi menembakkan gas air mata, memakai water cannon, dan memasang beton penghalang.
Tenda mahasiswa di depan Parlemen Yunani
Mahasiswa di Athena mendirikan tenda di Lapangan Syntagma, persis di samping Gedung Parlemen, pada 13 Oktober. Mereka memprotes kenaikan harga sewa asrama dan perumahan yang tak memadai, dan menuntut sewa lebih murah, tambahan hunian mahasiswa, subsidi lebih besar, serta pendanaan pendidikan yang lebih baik. Aksi duduk di sekolah juga bertambah karena kekurangan guru.
Spanyol: Marea Verde
Guru dan murid menggelar aksi bertajuk Marea Verde atau Gelombang Hijau pada pertengahan Oktober. Mereka menuntut tambahan dana publik, gaji lebih tinggi, pengurangan jam mengajar, dan staf yang lebih terspesialisasi. Menurut Daily Sabah, para kritikus menuduh pemerintah daerah mendorong privatisasi dan mengorbankan sekolah negeri.
Brussel, Belgia
Ratusan orang, sebagian besar anak muda, berunjuk rasa di Brussel pada Sabtu. Gerakan pelajar Belgia memprotes kenaikan biaya pendidikan dan reformasi yang dikhawatirkan mempersulit akses ke pendidikan tinggi, dan kerusuhan itu turut dipicu aksi di Prancis.
Banyak peserta bertutup wajah dan meneriakkan slogan antifasis. Seorang saksi mata Reuters melihat polisi memakai gas air mata dan meriam air, sementara demonstran membalikkan sebuah mobil.
Menteri Dalam Negeri Belgia Bernard Quintin menulis di X bahwa "apa yang sedang terjadi di Brussel bukan lagi sekadar aksi protes". Ia menambahkan bahwa "segala cara yang diperlukan akan digunakan untuk memulihkan ketertiban dalam menghadapi para perusuh".