Blok Masela Capai Milestone FID, Investasi Rp353 Triliun Segera Cair

Blok Masela

GarudaGlobal.net — Proyek Abadi LNG Blok Masela mencatatkan kemajuan korporasi yang signifikan setelah Kementerian Lingkungan Hidup resmi menerbitkan dokumen AMDAL pada Jumat, 13 Februari 2026.

Izin lingkungan ini merupakan prasyarat mutlak bagi INPEX Masela Ltd. untuk mengejar target Final Investment Decision (FID) pada pertengahan tahun ini. Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menegaskan bahwa pencapaian ini adalah momentum krusial bagi percepatan salah satu proyek gas terbesar di dunia.

“Alhamdulillah akhirnya kemarin di hari baik Jumat Barokah telah terbit AMDAL buat Proyek Masela, sebagai hadiah menjelang Ramadhan, Insya Allah Groundbreaking dalam waktu dekat,” ujar Djoko Siswanto pada 14 Februari 2026.

Akselerasi Infrastruktur dan Komitmen EPC

Pemerintah melalui Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, pada 28 Agustus 2025 telah memberikan dukungan penuh dalam bentuk fleksibilitas regulasi pengadaan. Dukungan ini bertujuan agar seluruh fase Front-End Engineering Design (FEED) dan Engineering, Procurement, and Construction (EPC) berjalan sesuai jadwal.

Investasi raksasa senilai US$21 miliar ini diproyeksikan menghasilkan 9,5 MMTPA LNG dan 150 MMSCFD gas pipa domestik. Direktur Proyek Abadi Inpex, Jarrad Blinco, menyatakan bahwa perusahaan membidik tahap tender EPC dimulai pada pertengahan tahun 2026 untuk mengejar target produksi pertama di tahun 2030.

Baca Juga :  Operasi Gizi Aceh: 185 Ribu Paket MBG dan Standar Respons yang Dipantau Dunia

Integrasi CCS dan Efisiensi Karbon

Blok Masela akan menjadi proyek LNG pertama di Indonesia yang mengintegrasikan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS). Presiden dan CEO INPEX Corporation, Takayuki Ueda, menekankan komitmen dekarbonisasi melalui penangkapan emisi sejak awal operasional proyek.

“Kami juga berkomitmen untuk pengurangan emisi melalui penerapan teknologi Carbon Capture and Storage (CCS) sejak awal proyek,” ungkap Ueda pada 9 April 2025. Dengan struktur kepemilikan Inpex (65%), Pertamina (20%), dan Petronas (15%), Blok Masela kini menjadi jangkar baru stabilitas energi dan ekonomi di kawasan regional Asia Tenggara. ***

By Hari