garudaglobal.net — Majelis Ahli Iran secara resmi mengumumkan pengangkatan Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi ketiga pada Minggu, 8 Maret 2026, guna mengisi kekosongan otoritas tertinggi negara.
Keputusan krusial ini diambil melalui sidang pleno yang menghasilkan dukungan suara lebih dari 85 persen dari total 88 ulama senior. “Dengan suara yang tegas, Majelis Ahli menunjuk Ayatollah Seyyed Mojtaba Hosseini Khamenei sebagai Pemimpin Ketiga sistem suci Republik Islam Iran,” tulis pernyataan resmi Majelis Ahli pada Minggu (8/3/2026).
Penunjukan ini memberikan Mojtaba otoritas absolut atas keputusan final negara, termasuk kendali atas stok uranium dan seluruh kebijakan pertahanan. Di dunia internasional, Mojtaba dikenal sebagai figur yang memiliki pengaruh luas terhadap jaringan ekonomi domestik dan institusi negara yang kuat. Transisi ini dipandang sebagai upaya cepat Teheran untuk menjaga stabilitas operasional di tengah tekanan sanksi AS dan konflik militer yang meningkat.
Kendali Militer dan Operasi Janji Setia 4
Sebagai Panglima Tertinggi yang baru, Mojtaba Khamenei langsung mengaktifkan jalur komando militer dengan memerintahkan tahap ke-30 dari Operasi Janji Setia 4 terhadap wilayah Israel. Langkah ini merupakan aksi korporasi militer pertama di bawah kepemimpinannya sebagai Wali Faqih. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) menyambut transisi ini dengan komitmen kepatuhan penuh terhadap arahan strategis sang pemimpin baru.
“IRGC siap untuk ketaatan penuh dan pengorbanan diri dalam melaksanakan perintah-perintah ilahi dari Wali Faqih zaman ini,” tegas pernyataan resmi IRGC, Senin (9/3/2026). Analis kebijakan publik dari American University of Beirut, Rami Khouri, menilai bahwa kepemimpinan Mojtaba mencerminkan dominasi kubu garis keras dalam struktur kekuasaan Iran. Hal ini diprediksi akan mengubah lanskap risiko geopolitik di kawasan Timur Tengah secara signifikan.
Respons Global dan Proyeksi Kebijakan Nuklir
Meskipun Presiden AS Donald Trump secara terbuka meragukan kapasitas kepemimpinannya, Mojtaba tetap mengonsolidasikan kekuatan di internal Iran. Teheran di bawah Mojtaba diperkirakan akan mengambil posisi yang lebih agresif terkait renegosiasi nuklir. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Qalibaf, menegaskan bahwa negara tidak akan menempuh jalan gencatan senjata dan siap menghadapi segala bentuk agresi eksternal.
Dukungan internasional terhadap suksesi ini datang dari Pyongyang, di mana Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un menyampaikan ucapan selamat resmi. “Kami yakin bahwa pemimpin ini akan mempermalukan Israel,” ujar Kim Jong Un pada 9 Maret 2026. Dengan mandat baru ini, Mojtaba Khamenei kini memegang kunci utama atas stabilitas energi dan keamanan di salah satu pusat geopolitik terpenting dunia. ***
