Shiddiqiyyah, Spiritualitas yang Menyatu dengan Bangsa

Kapolri Silaturahmi ke Ponpes Shiddiqiyyah Jombang, Perkuat Sinergi Umara dan Ulama

GarudaGlobal.net—Thoriqoh Shiddiqiyyah menunjukkan bagaimana spiritualitas Islam dapat bertransformasi menjadi kekuatan sosial yang berkelanjutan. Berakar pada peristiwa Isro’ Mi’roj, ajaran ini berkembang lintas wilayah dan zaman sebelum menemukan momentumnya kembali di Indonesia.

Fondasi Shiddiqiyyah lahir dari sikap Abu Bakar Ash-Shiddiq yang membenarkan Isro’ Mi’roj tanpa ragu. Sikap ini membentuk etos kejujuran yang menjadi inti ajaran. Dalam sejarah, etos tersebut berkembang menjadi jalan tasawuf yang menekankan integritas batin dan konsistensi iman.

Pada abad ke-9, Syekh Abu Yazid Al-Busthomi membawa Shiddiqiyyah ke masa keemasan. Di Iran dan Irak, ajaran ini menjadi bagian dari tatanan spiritual masyarakat. Kejujuran diposisikan sebagai fondasi relasi sosial dan kepemimpinan moral.

Transformasi nama thoriqoh setelah wafatnya Abu Yazid mencerminkan dinamika sejarah Islam. Catatan Syekh Amin Al-Qurdi menegaskan bahwa perubahan nama tidak identik dengan perubahan substansi. Ajaran shiddiq terus mengalir melalui berbagai jalur tasawuf besar.

Konteks Indonesia menghadirkan fase baru. Syekh Mukhtarullohil Mujtabaa Mu’thi menghidupkan kembali Shiddiqiyyah pada 1960-an dengan pendekatan bertahap dan institusional. Puncaknya, thoriqoh ini berdiri resmi pada 1972.

Baca Juga :  Skandal MBG Meluas, Pejabat BGN Tersangka Korupsi Pengadaan Food Tray

Pendekatan Syekh Mukhtar menempatkan spiritualitas sebagai kekuatan pembangunan manusia. Pendidikan, penguatan sosial, dan nasionalisme menjadi ruang aktualisasi nilai shiddiq. Dari sinilah Shiddiqiyyah berkembang sebagai jaringan spiritual yang terorganisasi dan berorientasi kemasyarakatan.

Dengan jutaan pengikut, Shiddiqiyyah kini melampaui batas geografis Indonesia. Ia menunjukkan bahwa spiritualitas yang kokoh justru memperkuat komitmen kebangsaan dan kemanusiaan—sebuah model yang relevan di tengah tantangan global. ***

By Hari