garudaglobal.net – Program Rumah Layak Huni yang digerakkan setiap 9 Ramadan oleh Thoriqoh Shiddiqiyyah menunjukkan pola pembiayaan mandiri yang konsisten dan berdampak ekonomi sosial luas. Dalam bingkai kemerdekaan Ramadan, pembangunan 2.232 unit rumah hingga 2025 menjadi indikator investasi sosial berbasis komunitas.
Rumah tipe 36 dibangun dengan biaya per unit berkisar Rp70 juta hingga Rp85 juta. Seluruh dana dihimpun dari partisipasi jamaah tanpa skema pembiayaan eksternal. Model ini menempatkan solidaritas internal sebagai motor utama pendanaan.
Secara agregat, ribuan unit yang telah berdiri mencerminkan sirkulasi dana miliaran rupiah yang dikelola kolektif. Dana tersebut dialokasikan langsung pada pembangunan fisik, bukan biaya seremonial.
Skema Mandiri dan Efisiensi Kolektif
Skema pembiayaan Rumah Layak Huni berjalan melalui kontribusi jamaah yang dihimpun setiap Ramadan. Momentum 9 Ramadan menjadi titik konsolidasi, baik secara spiritual maupun finansial.
Sekretaris Jenderal DHIBRA Pusat, Khoirul Mudzakkir, menyebut program ini sebagai “cara unik mensyukuri kemerdekaan,” yang diterjemahkan dalam bentuk bangunan permanen. Pernyataan itu menegaskan bahwa kemerdekaan Ramadan diarahkan pada alokasi sumber daya yang terukur.
Dengan biaya Rp70–85 juta per unit, pembangunan 2.232 rumah menunjukkan disiplin pengelolaan anggaran berbasis komunitas. Struktur tipe 36 dipilih sebagai standar agar efisien namun tetap layak huni.
Dampak Ekonomi dan Sosial Terukur
Secara ekonomi, pembangunan rumah menciptakan aktivitas konstruksi di berbagai daerah. Material dan tenaga kerja terserap di tingkat lokal.
Di sisi sosial, keluarga duafa memperoleh hunian permanen yang meningkatkan rasa aman dan stabilitas hidup. Imbasnya terasa pada kualitas kehidupan penerima manfaat.
Selain pembangunan rumah, santunan kepada veteran, yatim piatu, dan kaum duafa juga disalurkan setiap Ramadan. Ribuan paket bantuan didistribusikan secara nasional.
Dalam konteks ini, Rumah Layak Huni berfungsi sebagai instrumen investasi sosial. Kemerdekaan Ramadan tidak hanya diperingati, tetapi dikapitalisasi dalam bentuk aset fisik yang memberi dampak jangka panjang bagi masyarakat rentan.
