Internasional

Ancaman Bom Hantam Penerbangan Eropa Tiga Kali dalam Sepekan

Ilustrasi Ancaman Bom Sasar Penerbangan Eropa
Ilustrasi Ancaman Bom Sasar Penerbangan Eropa

Ancaman bom kembali menyasar penerbangan di sejumlah negara Eropa pada Jumat (6/11/2026), gelombang ketiga dalam sepekan terakhir. Hingga kini tidak ada bahan peledak yang ditemukan dan seluruh pesawat terdampak mendarat dengan selamat, tetapi Menteri Luar Negeri Spanyol Jose Manuel Albares menduga rangkaian ini adalah agresi hibrida dan perang psikologis terhadap Eropa.

Sehari sebelumnya, Kamis (5/11/2026), ancaman bom palsu mengganggu puluhan penerbangan penumpang di berbagai negara di benua itu. Beberapa pesawat terpaksa mendarat di luar jadwal, sementara yang lain dikawal atau dicegat jet tempur.

Dari Kopenhagen sampai Lisbon

Kepolisian Denmark menyelidiki ancaman yang menyasar lalu lintas udara di Bandara Kopenhagen. Penilaian awal tidak menemukan indikasi bahaya bagi penumpang, dan pihak bandara menyatakan operasional berjalan normal.

Di Praha, kepolisian Ceko menerima laporan ancaman terhadap penerbangan yang berangkat dari maupun tiba di kota itu. Juru bicara bandara menyebut empat penerbangan kedatangan dan lima penerbangan keberangkatan menjadi sasaran. Tidak ada bahan peledak yang ditemukan, dan tak satu pun penerbangan dibatalkan atau dialihkan akibat ancaman tersebut.

Namun, seorang sumber otoritas bandara Italia mengungkapkan bahwa penerbangan Wizz Air dari Praha menuju Roma dialihkan ke Venesia. Pesawat itu mendarat dengan selamat.

Kantor Perdana Menteri Prancis menyatakan menerima empat ancaman bom baru terhadap pesawat yang melintas di wilayah udara negara tersebut. Semuanya mendarat dengan aman. Laporan CNN Portugal menyebut ancaman terhadap penerbangan Ryanair dari Roma menuju Lisbon memicu operasi pengamanan begitu pesawat tiba di tujuan.

Dugaan serangan hibrida

Sejumlah pakar keamanan pada Kamis menilai rangkaian ancaman ini punya ciri serangan hibrida yang terkoordinasi. Mereka tidak menutup kemungkinan pelakunya individu yang meniru aksi sebelumnya atau bergerak karena motif pribadi. Belum ada negara yang secara resmi menunjuk pihak di baliknya.

Insiden ini muncul bersamaan dengan serangkaian sabotase dan upaya serangan di Eropa. Sasaran yang dilaporkan mencakup gardu listrik di Jerman, fasilitas terkait pertahanan di kawasan Baltik, lemari pendingin supermarket di Prancis, serta Bandara Leipzig di Jerman.

Sejumlah pejabat Eropa mengaitkan gangguan itu dengan dukungan negara-negara Eropa terhadap Ukraina dalam perang melawan invasi Rusia. Mereka menuding Moskow menjalankan kampanye gangguan hibrida yang murah, mudah disangkal, dan tidak diperkirakan memancing respons militer langsung.

Albares mengakui perlu waktu untuk memastikan penyebab dan pelaku. Namun pola serupa di banyak negara, menurut dia, sulit disebut kebetulan. "Perkiraan paling masuk akal adalah bahwa kita sedang menghadapi upaya agresi hibrida dan suatu bentuk perang psikologis," ujarnya kepada stasiun televisi nasional TVE. Ia menambahkan bahwa Eropa harus bersiap menghadapi gangguan serupa.

Klaim "fighters of the Male State"

Pada Kamis, sumber bandara di Italia menyebut ancaman bom dikirim ke sejumlah maskapai dan operator bandara di Roma serta Milan. Pengirimnya mengaku sebagai kelompok "fighters of the Male State". Reuters belum dapat memverifikasi secara independen siapa pengirim email itu, dan belum ada indikasi langsung soal pihak di balik ancaman lain terhadap penerbangan Eropa.

Vladislav Pozdnyakov, blogger Rusia yang mendirikan gerakan anti-feminis Male State pada 2016, membantah keterlibatan. Kelompok itu kemudian dilarang di Rusia. Ia menegaskan Male State sudah tidak ada dan tidak terlibat dalam rangkaian ancaman ini.