Eskalasi Militer AS-Saudi di Irak Ancam Stabilitas Pasar Energi

Pangkalan Pasukan di Irak

garudaglobal.net — Operasi militer bersama Amerika Serikat dan Arab Saudi di Irak pada Rabu, 28 Juli 2026, memicu guncangan baru pada stabilitas geopolitik dan pasar energi global. Penyerangan tersebut menewaskan empat anggota IRGC Iran dan 20 personel milisi lokal.

Eskalasi meningkat setelah kapal tanker gas milik AS terbakar di Pelabuhan Damietta, Mesir, akibat hantaman pesawat nirawak. Kombinasi serangan udara dan gangguan jalur logistik maritim ini mengancam arus distribusi komoditas vital kawasan.

Respon Taktis dan Latihan Gabungan GCC

Menanggapi lonjakan risiko keamanan kawasan, Angkatan Bersenjata Dewan Kerja Sama Teluk langsung menggelar latihan militer gabungan “Bahrain Shield” pada 28-30 Juli. Langkah ini diambil guna memperkuat koordinasi operasional dan kesiapan tempur kolektif.

Otoritas militer Teluk menilai dinamika terbaru mewajibkan konsolidasi pertahanan secara menyeluruh. Latihan ini ditujukan untuk memitigasi potensi gangguan pada infrastruktur kritis.

“Serangan-serangan penuh pengkhianatan yang terjadi di kawasan ini mengharuskan kita untuk mengembangkan kerja sama pertahanan militer gabungan,” kata Kepala Staf Letnan Jenderal Dhiab bin Saqr al-Nuaimi pada Rabu, 28 Juli 2026.

Baca Juga :  Kemitraan Strategis RI-Korea: Prabowo Amankan Investasi Digital USD 10,2 Miliar

Ancaman Balasan dan Proyeksi Pasar

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menegaskan komitmen penindakan keras atas serangan terhadap aset militer Amerika Serikat di Yordania. Pernyataan tersebut menandakan operasi militer lintas batas masih akan berlanjut.

Pemerintah Irak melalui Dewan Keamanan Nasional mendesak penyelesaian lewat jalur diplomasi guna menghindari keterlibatan dalam konflik regional. Namun, eskalasi yang meluas ke fasilitas energi tetap menjadi sentimen negatif bagi kepastian bisnis global. ***

By Eva