GarudaGlobal.net — Keputusan Presiden AS Donald Trump mengubah nama Danau Ontario menjadi Danau Amerika secara sepihak memicu eskalasi ketegangan diplomatik dan ekonomi dengan Kanada.
Pengumuman yang disampaikan di Gedung Putih pada Kamis (27/8/2026) tersebut langsung direspons keras oleh Ottawa dan pemerintah negara bagian New York.
Mengingat 52 persen luas permukaan danau berada di wilayah Kanada, kebijakan penamaan unik federal AS ini dinilai merusak iklim kerja sama lintas batas.
Langkah kontroversial ini terjadi persis ketika negosiasi pembaharuan kesepakatan perdagangan bilateral kedua negara mengalami jalan buntu.
“Danau ini akan segera berganti nama menjadi Danau Amerika,” tegas Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Washington, Kamis (27/8/2026).
Penolakan Tegas dari Ottawa dan Pemerintah New York
Perdana Menteri Kanada Mark Carney menegaskan tidak akan mengakui perubahan klaim penamaan perbatasan yang telah bertahan selama empat abad tersebut.
Gubernur New York Kathy Hochul juga memastikan wilayahnya tidak akan mengadopsi nama baru tersebut dalam tata kelola administrasi lokal.
“Realitas penamaan berarti menyebutnya Danau Ontario—dulu, sekarang, dan selamanya,” kritik Perdana Menteri Kanada Mark Carney, Kamis (27/8/2026).
Risiko Eskalasi Perang Dagang Bilateral
Grand Chief Pierre Picard dari Wendat Nation mengecam keputusan tersebut sebagai tindakan pengabaian terhadap akar sejarah kebudayaan kawasan.
Sikap konfrontatif AS ini dikhawatirkan makin mengancam kepastian investasi serta stabilitas rantai pasok perdagangan di kawasan Amerika Utara.
Retorika ekspansif Trump yang menargetkan penamaan kawasan perairan global berpotensi memicu retaliasi kebijakan ekonomi dari negara-negara mitra dagang.
Kondisi ini menambah daftar ketidakpastian pasar internasional di tengah alotnya perundingan tarif dagang kedua negara. ***
