garudaglobal.net — Presiden AS Donald Trump berhasil mengamankan komitmen pembelian 200 unit pesawat jet Boeing dari pemerintah China dalam kunjungan kenegaraan di Beijing, Jumat (15/5/2026). Kesepakatan bernilai miliaran dolar ini diproyeksikan menjadi katalisator pemulihan bagi industri penerbangan Amerika Serikat yang tengah menghadapi tekanan rantai pasok global.
Pertemuan bilateral selama 135 menit di Balai Besar Rakyat tersebut juga menyepakati normalisasi distribusi energi di Selat Hormuz pasca-Perang Iran. Langkah strategis ini diambil guna menekan volatilitas harga minyak dunia dan memastikan arus logistik energi antara Timur Tengah dan Asia tetap terjaga tanpa pungutan biaya tambahan.
Fokus utama delegasi ekonomi AS yang dipimpin Menteri Keuangan Scott Bessent adalah memperluas penetrasi pasar jasa dan produk manufaktur di daratan China. Trump secara eksplisit menekan Beijing untuk meningkatkan volume impor produk pertanian seperti kedelai serta produk peternakan sebagai syarat keberlanjutan relaksasi tarif yang telah dimulai sejak KTT Busan tahun lalu.
“Satu hal yang dia setujui hari ini, dia akan memesan 200 jet. Itu hal yang besar. Boeing,” tegas Presiden Donald Trump dalam laporan resmi kepada media di Beijing, Jumat (15/5/2026).
Selain Boeing, sektor teknologi juga menjadi agenda krusial dengan keterlibatan CEO Nvidia dan Tesla dalam pertemuan paralel bersama Perdana Menteri Li Qiang. Kesepakatan informal mengenai aliran mineral tanah jarang (rare earth) dan kerangka kerja keamanan Kecerdasan Buatan (AI) diharapkan dapat mengurangi risiko gangguan produksi di sektor semikonduktor global.
Meskipun kesepakatan ekonomi tercapai, volatilitas pasar tetap membayangi akibat peringatan keras Xi Jinping terkait isu Taiwan yang disebut sebagai “garis merah” hubungan bilateral. Beijing menegaskan bahwa stabilitas strategis yang telah dibangun dapat runtuh seketika jika Washington melanjutkan rencana penjualan senjata yang dianggap provokatif oleh China.
“Tangani dengan baik, hubungan bertahan; tangani dengan buruk, kedua negara berisiko mengalami benturan atau konflik,” papar juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menirukan ucapan Presiden Xi.
Analisis dari HSBC menggambarkan KTT ini sebagai “ujian penentu” bagi dinamika G2 yang menyumbang 60 persen dari PDB global. Keputusan China untuk mendiversifikasi pasokan minyak dari Timur Tengah ke Amerika Serikat dipandang sebagai strategi lindung nilai jangka panjang yang akan menguntungkan neraca perdagangan Washington di masa depan. ***
