garudaglobal.net — Dalam sebuah langkah yang memadukan kedisiplinan spiritual dan ketajaman visi sejarah, Syekh Mochammad Muchtarullohil Mujtabaa Mu’thi memperkenalkan tradisi “Taubat Bersama Khusus” setiap malam 17 Ramadhan. Terpusat di Pesantren Majma’al Bachroin, Jombang, inisiatif ini bertujuan untuk melakukan koreksi besar terhadap kelengahan kolektif bangsa dalam mengidentifikasi hubungan erat antara momentum Proklamasi 1945 dengan kalender Hijriah.
Secara strategis, ritual ini menggeser paradigma taubat dari sekadar penyesalan moral individu menjadi aksi korporat bangsa untuk mengakui kelemahan literasi sejarahnya. Data historis mencatat Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H. Syekh Muchtar menilai, kelengahan dalam mengingat konteks suci saat berdirinya negara adalah isu krusial yang harus diselesaikan melalui pendekatan spiritual yang elegan.
Koreksi Atas Kelengahan Dimensi Hijriah
Dihadapan ribuan jamaah, Syekh Muchtar memberikan penegasan tajam mengenai alasan di balik penambahan tradisi baru ini. Beliau memandang bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak hanya mengingat angka tahun Masehi, tetapi juga memahami ruh spiritual dari waktu kejadian sejarahnya, yakni bulan Ramadhan.
“Malam ini tambahan tradisi di tiap-tiap bulan Romadlon tanggal 17. Tradisi Taubat Bersama, taubat khusus bersama. Lain dengan Taubat di bulan Syuro, ini tobat khusus di bulan Romadlon, yang dituju itu kelengahan kita,” tegas Syekh Muchtar. Beliau menggarisbawahi bahwa kekeliruan ini bersumber dari kelengahan kolektif terhadap eksistensi NKRI yang lahir pada koordinat waktu Hijriah yang sangat sakral.
Legacy Nasionalisme Shiddiqiyyah Sejak 1960
Evolusi pengajian ini, yang berawal pada tahun 1960 dari hanya 20 orang peserta, menunjukkan pertumbuhan organisasi yang signifikan dengan pengaruh yang luas. Melalui doktrin Hubbul Wathon Minal Iman, Shiddiqiyyah memposisikan cinta tanah air sebagai bagian tak terpisahkan dari iman, yang kini diperkuat dengan literasi sejarah melalui ritual 17 Ramadhan.
Implementasi Taubat Bersama Khusus ini menegaskan bahwa bagi Syekh Muchtar, ibadah tidak berdiri di ruang hampa. Ramadhan 1945 harus dipulihkan sebagai memori kolektif yang mendasari berdirinya bangsa. Gerakan ini memastikan bahwa setiap jamaah tidak hanya tumbuh secara spiritual, namun juga memiliki kesadaran sejarah yang tajam terhadap identitas nasional Indonesia. ***
