Market Guncang: Harga Minyak Brent Melonjak 11,66 Persen Akibat Serangan Israel

Kehancuran akibat serangan Israel di Lebanon

garudaglobal.net — Harga minyak mentah dunia jenis Brent meroket 11,66 persen dalam satu sesi perdagangan akibat eskalasi serangan udara Israel ke wilayah Yaman pada 10 September 2025.

Lonjakan harga dari 69,36 dolar AS menjadi 77,45 dolar AS per barel ini dipicu kekhawatiran pasar atas gangguan pasokan energi global di kawasan Teluk pasca-Perang Iran-Israel.

Operasi udara Pasukan Pertahanan Israel (IDF) di Sana’a menewaskan 35 orang dan melukai 131 lainnya, menyasar infrastruktur strategis yang diklaim sebagai basis logistik militer Houthi.

“IAF (Angkatan Udara Israel) menyerang target militer milik rezim teroris Houthi di wilayah Sanaa dan Al-Jawf di Yaman,” tulis pernyataan resmi Militer Israel pada 10 September 2025.

Ancaman Penutupan Selat Hormuz dan Gangguan LNG

Ketegangan mencapai titik kritis setelah Parlemen Iran menyetujui mosi penutupan Selat Hormuz, jalur vital yang mengangkut 20 persen pasokan minyak dan gas LNG dunia.

Penutupan ini merupakan respons atas Operasi Rising Lion Israel yang menargetkan fasilitas nuklir Natanz dan Isfahan, serta berlanjutnya bombardir di Gaza dan Lebanon hingga Januari 2026.

Baca Juga :  Krisis Keamanan Turki: Risiko Sistemik di Balik Penembakan Sekolah Kahramanmaraş

Qatar dan Arab Saudi dilaporkan mulai menghentikan operasi di beberapa fasilitas ekspor LNG dan terminal minyak terbesar akibat risiko keamanan tinggi di jalur pelayaran internasional.

“Siapa pun yang menyerang kami, kami akan menghajar mereka. Serangan ini tidak melemahkan tangan kami,” tegas PM Benjamin Netanyahu melalui akun resminya pada September 2025.

Dampak Kerugian Infrastruktur dan Ekonomi Digital

Agresi militer ini tidak hanya memukul sektor komoditas, tetapi juga menyebabkan kerugian ekonomi digital sebesar 37 juta dolar AS per hari akibat pemadaman internet di Iran.

Gaza mencatat kerugian kemanusiaan terbesar dengan 71.400 korban tewas, sementara di Lebanon, WHO melaporkan 1.268 orang kehilangan nyawa sejak serangan intensif Maret 2026 dimulai.

Pihak Houthi melalui juru bicara Yahya Saree mengklaim telah mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk memproteksi wilayah kedaulatan dari formasi jet tempur Israel.

“Pertahanan udara kami berhasil meluncurkan sejumlah rudal darat-ke-udara saat menghadapi agresi Zionis,” ujar Yahya Saree melalui media Al Masirah pada 10 September 2025.

Baca Juga :  Insiden Flotilla Ashdod Picu Pemutusan Dagang Kolombia Dan Krisis Diplomatik Israel

Konflik yang meluas ini memaksa 3,2 juta warga Iran mengungsi dan menyebabkan 8.000 warga Israel kehilangan tempat tinggal, menciptakan beban finansial baru bagi stabilitas ekonomi regional. ***

By Eva