Kerusuhan yang bermula dari protes biaya hidup dan memburuknya sekolah serta layanan publik menjalar ke sejumlah kota di Prancis sejak Sabtu (17/10/2026). Lebih dari 2.300 orang ditahan dan ratusan polisi terluka, sementara balai kota Limoges dilalap api dan toko-toko dijarah.
Ratusan ribu orang turun ke jalan hari itu. Keluhan mereka berkisar pada harga-harga yang terus naik dan layanan negara yang kian merosot. Menjelang malam, aksi itu berubah menjadi bentrokan dan penjarahan.
Di Limoges, kebakaran besar di balai kota membuat sebagian atapnya runtuh. Kerusakan bangunan juga dilaporkan di Grenoble, Avignon, Pau, Montpellier, dan Valence. Di Lyon, kantor pariwisata ikut dibakar. Menurut polisi setempat, sekelompok orang yang bermusuhan menghalangi petugas pemadam kebakaran memadamkan api dengan aman.
Angka penahanan terus bergeser. Pada hari kejadian, Perdana Menteri Sébastien Lecornu menyebut 1.200 orang ditangkap dan 150 polisi terluka, dan ia menyebut jatuhnya korban jiwa yang tidak lebih banyak sebagai keajaiban. Sehari kemudian, Menteri Dalam Negeri Laurent Nuñez menaikkan jumlahnya menjadi 1.800 orang, dengan lebih dari 500 aparat penegak hukum cedera.
Laporan media Indonesia mencatat angka yang lebih tinggi lagi. Lebih dari 2.300 orang ditangkap dan sekitar 1.000 polisi terluka, dari luka ringan hingga serius. Viva.co.id melaporkan 2.513 penahanan, dengan puluhan orang di antaranya masuk penjara. Selisih antarangka itu belum diuraikan dalam laporan-laporan tersebut.
Disebut dalam sebuah laporan ada 50 kelompok berbeda yang terlibat, mulai dari organisasi politik dan gerakan mahasiswa hingga kelompok masyarakat. Klaim itu tidak muncul dalam pernyataan pejabat Prancis yang dirujuk artikel ini.
Pemerintah Prancis menegaskan akan menjaga ketertiban dan keamanan publik. Nuñez menulis di platform X bahwa penyelidikan sedang berjalan untuk mengidentifikasi para pelaku agar mereka dapat diadili. Operasi penegakan hukum intensif digelar di seluruh wilayah terdampak.