Eropa Menolak, Trump Kecam NATO atas Krisis Selat Hormuz

Trump minta bantuan NATO

garudaglobal.net — Hubungan diplomatik antara Amerika Serikat dan sekutu Eropanya mencapai titik terendah setelah negara-negara anggota NATO secara kolektif menolak keterlibatan militer dalam konflik Iran. Penolakan ini muncul menyusul Operasi “Epic Fury” yang dilancarkan AS-Israel pada 28 Februari 2026, yang memicu penutupan Selat Hormuz oleh Teheran. Ketegangan ini memicu kemarahan Presiden Donald Trump yang menilai aliansi tersebut gagal mendukung kepentingan strategis Washington.

Dalam pertemuan darurat Menteri Luar Negeri Uni Eropa di Brussels pada 16 Maret 2026, diputuskan bahwa tidak ada keinginan untuk melakukan intervensi militer di kawasan tersebut. Negara-negara besar seperti Jerman dan Prancis menegaskan bahwa nato adalah aliansi pertahanan wilayah, bukan instrumen untuk operasi ofensif di Timur Tengah. Keputusan ini diambil di tengah melonjaknya harga minyak dunia yang sempat menembus angka US$119 per barel.

Penolakan Tegas Jerman dan Prancis Terhadap Operasi Militer

Jerman menjadi negara yang paling vokal menolak permintaan Amerika Serikat dengan menyatakan bahwa konflik ini tidak memiliki dasar mandat bagi aliansi. Menteri Pertahanan Jerman, Boris Pistorius, secara terbuka menegaskan posisi Berlin yang tidak ingin terseret dalam peperangan yang dipicu secara unilateral. Sementara itu, Prancis melalui Presiden Emmanuel Macron menyatakan hanya akan menyiapkan misi pengawalan niaga yang bersifat defensif murni guna menjamin kebebasan navigasi.

Baca Juga :  Indonesia dan BRICS 2026: Dampaknya bagi Ekonomi dan Keseimbangan Global

“Ini bukan perang kami, kami tidak memulainya,” tegas Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius pada 16 Maret 2026. Senada dengan itu, PM Inggris Keir Starmer juga menekankan bahwa misi di Selat Hormuz tidak pernah direncanakan sebagai misi nato. “Biar saya perjelas: itu bukan, dan tidak pernah dibayangkan, sebagai misi NATO,” ujar Starmer pada 17 Maret 2026 guna meredam spekulasi keterlibatan Inggris dalam perang yang lebih luas.

Trump Ancam Masa Depan Aliansi Melalui Media Sosial

Frustrasi dengan sikap para sekutu, Presiden Donald Trump meluapkan kemarahannya melalui platform Truth Social dengan menyatakan bahwa Amerika tidak lagi membutuhkan bantuan negara-negara Eropa. Trump menyebut penolakan tersebut sebagai “kesalahan yang sangat bodoh” dan memperingatkan bahwa masa depan aliansi tersebut berada dalam kondisi yang sangat buruk. Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menambahkan bahwa negara-negara tersebut seharusnya membalas perlindungan militer AS dengan tindakan nyata di lapangan.

“Kita tidak lagi ‘membutuhkan’, atau menginginkan, bantuan negara-negara NATO — KITA TIDAK PERNAH BUTUH!” tulis Trump dalam unggahannya pada 17 Maret 2026. Pernyataan ini memperparah ketidakpastian global, terutama bagi negara-negara net importir minyak seperti Indonesia. Ketidakhadiran konsensus militer di Selat Hormuz kini memaksa dunia menghadapi ancaman krisis energi yang berkepanjangan tanpa solusi keamanan kolektif yang jelas.

Baca Juga :  Iran Tolak Proposal AS, Stabilitas Energi Global Terancam Gejolak

Perpecahan di internal blok barat ini menunjukkan adanya jurang strategis yang semakin lebar antara ambisi militer Amerika dan kebijakan luar negeri Eropa yang lebih mengedepankan diplomasi. Penuntasan krisis Iran memerlukan langkah yang lebih dari sekadar ancaman sepihak guna memulihkan stabilitas pasar energi global. ***

By Eva