garudaglobal.net — Indonesia bersiap melakukan disrupsi pada neraca perdagangan migas nasional dengan target penghentian total impor solar mulai 1 Juli 2026 guna memperkuat posisi devisa negara.
Langkah strategis ini mengintegrasikan peningkatan kapasitas kilang domestik dengan program mandatori biodiesel B50 yang diproyeksikan mampu menghemat devisa hingga USD 10,84 miliar per tahun.
Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman, memastikan jadwal krusial ini merupakan bagian dari peta jalan pemerintah dalam memitigasi risiko volatilitas harga energi global di masa depan.
“Solar kita tidak impor lagi. Tahun 2026 pada 1 Juli kita stop, B50 masuk,” tegas Andi Amran Sulaiman saat memaparkan kebijakan energi berbasis komoditas pada 19 April 2026.
Optimalisasi Asset RDMP dan Efisiensi Fiskal
Sektor energi nasional akan mengandalkan operasional penuh kilang RDMP Balikpapan yang memiliki nilai investasi strategis mencapai USD 7,4 miliar atau setara Rp 126 triliun.
Fasilitas pengolahan minyak terbesar ini dirancang untuk menciptakan surplus produksi solar domestik sebesar 3 hingga 4 juta kiloliter per tahun bagi pasar dalam negeri.
Melalui surplus tersebut, ketergantungan terhadap pasokan luar negeri yang pada 2025 masih mencapai 10,58 persen dari total kebutuhan nasional dapat dieliminasi sepenuhnya.
Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, menekankan bahwa sinkronisasi antara infrastruktur fisik dan kebijakan fiskal ini merupakan kunci keberhasilan kedaulatan energi nasional pada 2026.