garudaglobal.net — Eskalasi militer antara Israel dan Iran pada Mei 2026 telah memicu ketidakpastian pasar global setelah Teheran resmi menutup Selat Hormuz sebagai balasan atas hancurnya infrastruktur pertahanan udara mereka. Blokade jalur perdagangan energi vital ini, dikombinasikan dengan serangan presisi Israel ke fasilitas nuklir Lavisan-Shian, memaksa para pelaku pasar melakukan penilaian ulang terhadap risiko geopolitik di kawasan tersebut secara masif.
Kejatuhan rezim di Suriah dan kebijakan boikot perdagangan total dari Turki senilai 9,5 miliar dolar menciptakan hambatan baru bagi stabilitas ekonomi regional. Israel kini memprioritaskan kontrol udara dan laut untuk mengamankan aset strategisnya, sembari mengawasi rekonstituisi milisi proksi yang masih menerima aliran dana besar dari Teheran untuk mengganggu stabilitas pasar.
Laporan IAEA pada Mei 2025 yang mengungkap aktivitas nuklir ilegal Iran menjadi katalisator bagi Israel untuk melancarkan Operasi Rising Lion guna mendegradasi ancaman eksistensial. Langkah militer ini tidak hanya menargetkan situs atom, tetapi juga melumpuhkan separuh peluncur rudal balistik Iran yang memiliki jangkauan hingga 2.000 kilometer, mencakup pasar utama di Eropa.
“Ada konsensus nasional dan pertahanan yang luas, dan pemahaman bahwa ini bisa dilakukan — tidak hanya di bidang keamanan, tetapi juga di bidang diplomatik,” tegas Menteri Pertahanan Israel Israel Katz pada November 2024. Kebijakan ini menegaskan komitmen Tel Aviv untuk menggunakan kekuatan militer sebagai instrumen perlindungan terhadap stabilitas ekonomi nasional dan regional dari potensi ancaman senjata nuklir.
Kehancuran jalur pasokan darat melalui Suriah pasca-Assad memberikan tekanan finansial berat bagi Hezbollah, meskipun Iran dilaporkan tetap menyalurkan dana bantuan sebesar 1 miliar dolar pada 2025. Di sisi lain, milisi Houthi di Yaman mencoba mengalihkan fokus pasar dengan meningkatkan frekuensi serangan terhadap jalur maritim, menargetkan keamanan navigasi komersial yang berujung pada meningkatnya biaya asuransi pengiriman internasional.
Iran terus berupaya meredam spekulasi senjata nuklir dengan retorika diplomatik guna menjaga akses terbatas ke pasar internasional yang tersisa. “Iran telah berulang kali menyatakan program nuklirnya hanya untuk tujuan damai. Senjata nuklir tidak ada tempat dalam doktrin nuklir kami,” ujar Juru Bicara Pemerintah Iran pada April 2024, sebuah klaim yang kini kehilangan kredibilitasnya di mata investor global.
Di tengah ketegangan ini, Israel berhasil mempertahankan supremasi udaranya, memungkinkan operasi militer hingga radius 2.000 kilometer tanpa gangguan signifikan. Mekanisme koordinasi intelijen baru dengan pemerintahan transisi Suriah juga menjadi langkah krusial untuk meminimalisir risiko gangguan rantai pasok darat di masa depan, demi menjaga keberlangsungan iklim bisnis di kawasan. ***
