garudaglobal.net – Perang Iran membawa konsekuensi ekonomi dan strategis yang signifikan bagi Amerika Serikat setelah sejumlah aset militernya di Timur Tengah mengalami kerusakan. Dalam beberapa hari pertama konflik sejak 28 Februari, nilai kerugian peralatan militer AS diperkirakan mencapai hampir 2 miliar dolar AS atau sekitar Rp33 triliun berdasarkan kompilasi data dan laporan intelijen sumber terbuka.
Kerugian tersebut berasal dari berbagai fasilitas dan sistem militer berteknologi tinggi yang menjadi tulang punggung operasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Serangan balasan Iran terhadap sejumlah pangkalan militer dan instalasi pertahanan menunjukkan bahwa konflik modern tidak hanya berdampak pada kekuatan militer, tetapi juga menimbulkan kerugian ekonomi yang besar akibat rusaknya teknologi militer bernilai tinggi.
Secara keseluruhan, estimasi kerusakan aset militer Amerika Serikat mencapai sekitar 1,9 miliar dolar AS. Nilai tersebut mencerminkan tingginya biaya teknologi militer dalam konflik modern, di mana satu sistem radar atau jet tempur dapat bernilai ratusan juta hingga miliaran dolar.
Radar Strategis Jadi Kerugian Militer Termahal
Kerugian terbesar dalam Perang Iran berasal dari rusaknya sistem radar peringatan dini AN/FPS-132 milik Amerika Serikat yang ditempatkan di Pangkalan Udara Al Udeid, Qatar. Sistem radar strategis ini memiliki nilai sekitar 1,1 miliar dolar AS atau sekitar Rp18,6 triliun.
Radar tersebut berfungsi sebagai bagian penting dari jaringan deteksi rudal balistik jarak jauh Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Serangan rudal Iran dilaporkan menghantam fasilitas radar tersebut sehingga menyebabkan kerusakan besar pada sistem yang berperan sebagai pusat pemantauan ancaman udara.
Selain itu, Iran juga mengklaim telah menghancurkan komponen radar AN/TPY-2 dari sistem pertahanan rudal balistik THAAD yang ditempatkan di Kompleks Industri Al-Ruwais di Uni Emirat Arab. Nilai komponen radar tersebut diperkirakan mencapai sekitar 500 juta dolar AS.
Kerusakan pada sistem radar ini memiliki arti strategis karena radar berfungsi sebagai pusat pengawasan dan peringatan dini bagi operasi militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.
Jet Tempur dan Sistem Komunikasi Ikut Terdampak
Selain radar, kerugian militer juga datang dari hancurnya tiga pesawat tempur F-15E Strike Eagle milik Amerika Serikat. Pesawat tersebut jatuh akibat insiden salah tembak oleh sistem pertahanan udara Kuwait saat situasi militer di kawasan meningkat.
Meski seluruh awak pesawat berhasil selamat, ketiga pesawat tempur tersebut tidak dapat diselamatkan. Biaya penggantian pesawat diperkirakan mencapai sekitar 282 juta dolar AS atau sekitar Rp4,7 triliun.
Kerusakan lain juga terjadi di markas Armada Kelima Angkatan Laut Amerika Serikat di Manama, Bahrain. Dalam serangan awal konflik, dua terminal komunikasi satelit AN/GSC-52B dilaporkan hancur bersama sejumlah bangunan di area pangkalan tersebut.
Terminal satelit ini merupakan bagian dari jaringan komunikasi militer yang menghubungkan operasi angkatan laut Amerika Serikat di Timur Tengah. Nilai fasilitas komunikasi tersebut diperkirakan mencapai sekitar 20 juta dolar AS termasuk biaya instalasi dan sistem pendukungnya.
Besarnya nilai aset militer yang rusak memperlihatkan bahwa Perang Iran bukan sekadar konflik militer biasa, tetapi juga pertarungan teknologi mahal yang mempengaruhi keseimbangan strategis dan ekonomi pertahanan di kawasan.
