Market Shock: Selat Hormuz Terblokade, Minyak WTI Tembus US$81

Harga Minyak Mentah

garudaglobal.net — Pasar komoditas energi dunia mengalami guncangan hebat (market shock) setelah penutupan Selat Hormuz oleh Iran memicu lonjakan harga minyak mentah secara signifikan pada awal Maret 2026.

Data perdagangan pada 3 Maret 2026 menunjukkan kenaikan yang agresif, di mana West Texas Intermediate (WTI) diperdagangkan di level US$81,05 per barel, naik sebesar 3,64 persen. Sementara itu, Brent Crude mencatatkan kenaikan hingga 4 persen pada level US$78,83 per barel. Eskalasi militer pasca serangan AS-Israel ke Teheran menjadi faktor fundamental utama yang mengganggu stabilitas pasokan energi dunia, mengingat Selat Hormuz menyumbang distribusi 20 persen minyak global.

Disrupsi Suplai Global dan Tekanan Fiskal Negara Importir

Operasi militer yang kian intensif di Timur Tengah telah mengubah lanskap risiko pasar. Setelah serangan udara ke fasilitas nuklir Iran, Garda Revolusi Iran (IRGC) segera melancarkan balasan dengan menyerang kapal-kapal di dekat Hormuz. Kondisi ini diperparah dengan langkah Qatar yang menghentikan pengiriman LNG ke pasar Eropa. Bagi Indonesia, volatilitas harga minyak mentah ini langsung direspons dengan kenaikan harga jual eceran BBM nonsubsidi seperti Pertamax menjadi Rp12.300 per liter guna memitigasi pembengkakan beban kompensasi energi.

Baca Juga :  BCA Eksekusi Buyback Rp5 Triliun Perkuat Struktur Modal di Pasar Reguler

PBB dalam rilis resminya pada 3 Maret 2026 menyoroti kerentanan sistem ekonomi global terhadap titik-titik distribusi energi yang strategis. Gangguan pada satu jalur vital seperti Hormuz terbukti mampu mengacaukan proyeksi inflasi global dan menghambat pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang. Tren kenaikan tahunan sebesar 7-12 persen memberikan sinyal kuat kepada para investor bahwa pasar energi fosil sedang berada dalam periode volatilitas tinggi yang tidak menentu.

Analisis Strategis dan Proyeksi Harga Kedepan

Menghadapi situasi yang dinamis ini, Direktur CORE Indonesia, Mohammad Faisal, memberikan proyeksi yang perlu diantisipasi secara serius oleh pelaku industri. “Konflik berlanjut, harga tembus US$100 jika Hormuz terganggu,” kata Faisal dalam wawancaranya pada 28 Februari 2026. Jika skenario ini terjadi, maka inflasi logistik global akan menjadi ancaman baru bagi stabilitas ekonomi nasional.

Komisi I DPR RI telah menyatakan kesiagaan dalam menghadapi dampak ekonomi dari konflik Timur Tengah ini pada Maret 2026. Fokus utama saat ini adalah menjaga kestabilan nilai tukar dan mengamankan cadangan minyak nasional agar tidak terganggu oleh disrupsi pasokan internasional. Sinergi kebijakan antara sektor energi dan moneter akan menjadi kunci bagi Indonesia untuk tetap kompetitif di tengah badai harga minyak mentah yang kian memanas di pasar global. ***

Baca Juga :  Kementan dan Peluang Kelapa Sawit di Perdagangan Karbon Global
By Chandra