GarudaGlobal.net - Banjir di Padang pada Sabtu, 10 Oktober 2026, memunculkan perbedaan angka dalam laporan dampak bencana. BNPB mencatat sekitar 498 jiwa terdampak, 672 jiwa mengungsi, dan 238 jiwa dievakuasi, sementara sejumlah laporan media menyebut angka evakuasi yang berbeda.
Banjir terjadi setelah hujan lebat mengguyur Kota Padang dan tanggul darurat Sungai Air Dingin jebol. Genangan merendam permukiman di Kecamatan Koto Tangah dan Kuranji, menyebabkan rumah warga rusak serta akses jalan di kawasan Guo terputus.
Data Banjir di Padang dan Perbedaan Jumlah Warga
Berdasarkan data BNPB per 11 Oktober 2026 dalam naskah sumber, banjir berdampak pada sekitar 225 kepala keluarga atau 498 jiwa di enam kelurahan. Sebanyak 120 rumah dilaporkan terendam, sedangkan di Kuranji tercatat 4 rumah rusak sedang dan 1 rumah rusak berat.
BNPB juga mencatat 672 jiwa mengungsi di wilayah Kuranji. Mereka tersebar di tiga lokasi, yakni 367 jiwa di tenda Lapau Munggu dan rumah warga, 250 jiwa di Musala Ar Ridwan, serta 55 jiwa di Warung Jembatan Guo.
Angka tersebut menunjukkan perbedaan kategori yang perlu diperjelas. Jumlah warga terdampak tidak selalu sama dengan jumlah pengungsi karena keduanya mengacu pada status yang berbeda, sedangkan jumlah evakuasi mencatat warga yang dipindahkan dari lokasi berisiko.
Karena itu, selisih antara 498 jiwa terdampak dan 672 jiwa mengungsi belum cukup untuk menyimpulkan adanya kesalahan pendataan. Data tersebut perlu dikonfirmasi kepada BPBD Kota Padang atau Pusdalops terkait cakupan wilayah, waktu pencatatan, dan kemungkinan perbedaan kelompok yang dihitung.
Angka Evakuasi Berbeda, Pemutakhiran Data Diperlukan
Perbedaan juga muncul dalam laporan evakuasi. Sejumlah media mengutip keterangan petugas SAR dengan angka sekitar 40 hingga 55 orang, sementara laporan lain menyebut jumlah yang lebih besar. BNPB mencatat 238 jiwa dievakuasi.
Perbedaan tersebut mungkin berkaitan dengan waktu pelaporan, wilayah operasi, atau definisi evakuasi yang digunakan. Namun, tanpa penjelasan langsung dari masing-masing sumber, penyebab perbedaan angka itu belum dapat dipastikan.
Data yang konsisten penting karena menjadi dasar penentuan kebutuhan pengungsian, distribusi logistik, pendataan rumah rusak, dan penyaluran bantuan. Jika kategori serta waktu pencatatan tidak dijelaskan, masyarakat akan kesulitan memahami skala bencana dan menilai apakah bantuan telah menjangkau warga yang membutuhkan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang, Hendri Zulviton, memastikan tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Meski demikian, kerugian materiil belum memiliki angka resmi dalam bahan laporan yang tersedia.
Penanganan Banjir Belum Tuntas
Banjir pada Oktober 2026 kembali terjadi di kawasan yang sebelumnya terdampak bencana pada November 2025, Januari 2026, dan Agustus 2026. Pengulangan kejadian di sejumlah lokasi membuat pemutakhiran data dampak perlu berjalan beriringan dengan penanganan risiko banjir.
Pemerintah Kota Padang dan Balai Wilayah Sungai Sumatera V menyepakati rencana pekerjaan rehabilitasi dan rekonstruksi sungai mulai November 2026. Rencana tersebut mencakup Batang Kuranji dan Batang Air Dingin, meski pelaksanaan serta hasilnya masih harus dipantau.
Bagi warga terdampak, persoalan mendesak bukan hanya surutnya air, tetapi juga kepastian tempat tinggal, perbaikan rumah, dan keamanan ketika hujan kembali turun. Data pengungsi yang akurat akan membantu pemerintah menentukan prioritas bantuan sekaligus mengevaluasi kebutuhan pemulihan.
Hingga informasi dalam laporan 11 Oktober 2026, data dampak banjir masih perlu dimutakhirkan. Klarifikasi mengenai perbedaan jumlah warga terdampak, pengungsi, dan orang yang dievakuasi menjadi langkah penting agar penanganan bencana didasarkan pada angka yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.