GarudaGlobal.net — India menghadapi disrupsi ekonomi masif pada Kamis, 12 Februari 2026, menyusul aksi mogok nasional “Bharat Bandh” yang melumpuhkan sektor transportasi, perbankan, dan manufaktur. Aksi ini merupakan respons terorganisir dari 10 Serikat Buruh Pusat (CTU) dan aliansi petani SKM terhadap implementasi 4 Kode Tenaga Kerja 2025 dan kesepakatan perdagangan interim antara New Delhi dan Washington.
Laporan lapangan menunjukkan operasional bus negara (KSRTC) di wilayah kunci seperti Kerala dan Karnataka berhenti total. Sektor perbankan publik mengalami gangguan pada kliring cek dan layanan konter, memicu peringatan risiko dari State Bank of India (SBI). Di sektor industri, pabrik otomotif di Tamil Nadu dan pertambangan batu bara di Jharkhand melaporkan penghentian operasional sebagian yang berdampak pada rantai pasok.
“Setidaknya 30 crore (300 juta) pekerja berpartisipasi hari ini melawan kode tenaga kerja yang bersifat anti-buruh,” tegas Amarjeet Kaur, Sekretaris Jenderal AITUC, dalam wawancara dengan PTI pada 12 Februari 2026. Fokus utama penolakan adalah kebijakan hire and fire yang dianggap merugikan iklim investasi jangka panjang bagi stabilitas tenaga kerja.
Respons Pasar dan Pemerintah
Menteri Perdagangan dan Industri, Piyush Goyal, berusaha menenangkan pasar melalui siaran resmi pada 11 Februari 2026. Ia menyatakan bahwa pemerintah telah mengamankan sektor-sektor sensitif dari dampak impor AS melalui perjanjian dagang tersebut. Goyal menekankan bahwa reformasi ini merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi ekonomi India di kancah internasional.
Namun, sentimen negatif tetap kuat di kalangan petani. Hannan Mollah (SKM) mengecam keras langkah tersebut dan menuntut pengunduran diri Menteri Goyal. Sementara itu, dari sudut pandang kontra-protes, Bumba Mukherjee dari NFITU menyatakan bahwa aksi mogok ini justru akan menghambat momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Kontestasi kepentingan ini menempatkan India dalam sorotan investor global terkait stabilitas domestik di tengah reformasi struktural. *
