GarudaGlobal.net — Tragedi Irene Sokoy (31) di Jayapura pada 19 November menjadi perhatian luas karena mencerminkan tantangan layanan kesehatan Indonesia, khususnya di wilayah timur, menjelang momentum Otsus Papua.
Dari perspektif global, kasus ini serupa dengan tantangan maternal care di negara-negara berpendapatan menengah. WHO menegaskan pentingnya sistem rujukan yang responsif dan kesiapan tenaga kandungan 24 jam.
Penolakan beruntun dari empat rumah sakit menunjukkan kesenjangan kapasitas antara pusat kota dan wilayah terpencil. Alasan NICU penuh, ketiadaan dokter, serta renovasi ruang operasi adalah indikator lemahnya manajemen risiko fasilitas.
Reaksi publik melalui tagar #LayaniDuluBayarBelakangan mencerminkan meningkatnya ekspektasi warga terhadap standar layanan setara global.
Gubernur Mathius Fakhiri dan Senator Filep Wamafma mendorong audit dan reformasi kebijakan. Hal ini sejalan dengan rekomendasi lembaga internasional terkait penurunan AKI, yang di Papua mencapai 565.
Sebagai provinsi strategis, Papua memerlukan investasi kesehatan yang dapat mengurangi ketimpangan nasional. (*)
