Internasional

Indonesia Kecam Serangan Houthi ke Bandara Arab Saudi

Korban Serangan Rudal di Bandara Riyadh
Korban Serangan Rudal di Bandara Riyadh

GarudaGlobal.net - Indonesia mengecam serangan Houthi ke bandara Arab Saudi yang menewaskan 3 orang dan melukai 36 lainnya pada 6-7 Oktober 2026. Melalui Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI, Indonesia mendesak semua pihak menghentikan serangan dan aksi balasan, melindungi warga sipil, serta mengutamakan dialog untuk meredakan konflik.

Dalam pernyataan yang disampaikan melalui media sosial, Kemlu RI menegaskan penolakan Indonesia terhadap segala bentuk serangan yang menyasar warga dan objek sipil. Pemerintah juga menyoroti dampak serangan terhadap keselamatan penerbangan dan memburuknya situasi kemanusiaan di Yaman.

"Indonesia mengecam keras segala bentuk serangan terhadap warga dan objek sipil serta menegaskan pentingnya perlindungan warga sipil dari dampak konflik bersenjata," demikian pernyataan Kemlu RI.

Serangan Houthi ke Bandara Arab Saudi Tewaskan 3 Orang

Otoritas Penerbangan Sipil Arab Saudi melaporkan serangan terhadap Bandara Internasional Abha dan Bandara Internasional King Khalid di Riyadh pada Selasa (6/10) dan Rabu (7/10). Insiden tersebut menewaskan 3 orang dan melukai 36 lainnya.

Serangan di Bandara Abha menewaskan 2 perempuan berkewarganegaraan Maroko dan Aljazair serta melukai 28 orang. Sementara itu, serangan di Bandara King Khalid menewaskan seorang warga Sudan dan melukai 8 orang, menurut laporan otoritas Arab Saudi.

Kelompok Houthi mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Mereka menyatakan menggunakan drone dan rudal untuk menyerang kedua bandara, di tengah meningkatnya pertempuran dengan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.

Serangan terhadap bandara sipil membawa risiko yang melampaui kerusakan fasilitas. Gangguan operasional dapat membahayakan penumpang dan pekerja, menghambat perjalanan masyarakat, serta mempersulit pergerakan bantuan kemanusiaan ketika konflik semakin intensif.

Indonesia Desak Penghentian Serangan dan Aksi Balasan

Indonesia meminta seluruh pihak terkait menahan diri secara maksimal dan menghentikan serangan maupun aksi balasan. Kemlu RI juga menegaskan bahwa setiap tindakan harus sesuai dengan hukum internasional, terutama hukum humaniter internasional yang mengatur perlindungan orang-orang yang terdampak konflik bersenjata.

Selain perlindungan warga sipil, Indonesia menekankan pentingnya menghormati kedaulatan dan keutuhan teritorial setiap negara di kawasan. Pemerintah berharap pihak-pihak yang bertikai kembali menempuh jalur dialog dan diplomasi untuk mencari penyelesaian damai.

Sikap tersebut menempatkan perlindungan warga sipil sebagai tuntutan utama di tengah eskalasi konflik. Serangan terhadap fasilitas penerbangan memperbesar risiko bagi masyarakat yang tidak terlibat dalam pertempuran, sementara aksi balasan berpotensi memperluas dampak kemanusiaan.

Eskalasi Konflik Yaman Mengancam Stabilitas Kawasan

Pertempuran antara Houthi dan pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi juga meningkat di sekitar Selat Bab al-Mandab, jalur pelayaran strategis yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden.

Kawasan tersebut penting bagi perdagangan dan pelayaran internasional, sehingga ketidakstabilan keamanan dapat menimbulkan dampak yang meluas.

Indonesia menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban meninggal dan berharap para korban luka segera pulih.

Pemerintah juga mengingatkan semua pihak agar mengutamakan diplomasi daripada memperpanjang siklus serangan dan pembalasan.

Perkembangan konflik selanjutnya akan menentukan besarnya risiko terhadap warga sipil, keselamatan penerbangan, dan stabilitas kawasan.

Penghentian serangan serta kepatuhan terhadap hukum internasional menjadi langkah penting untuk mencegah bertambahnya korban.